Skip to main content

Pesawat Sriwijaya Air Diduga Jatuh Keadaan Stall, Mirip Air Asia, Pakar Kuak 3 Kemungkinan Pemicunya


Penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Pontianak hingga saat ini belum dapat dipastikan.

Tetapi, beberapa pakar menguak kemungkinan pemicunya.

Pesawat Sriwijaya Air SJ182 diduga jatuh keadaan stall.

Kondisi yang sama pernah dialami oleh Pesawat Air Asia yang juga jatuh beberapa tahun silam.

Ada istilah 'Stall' yang dipakai dalam penerbangan untuk menggambarkan kondisi pesawat di udara.

Mari simak selengkapnya.


Pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dengan kode penerbangan SJ 182 hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021).

Sampai saat ini belum bisa diketahui secara pasti apa sebenarnya yang menyebabkan pesawat ini terjatuh.

Tetapi, keadaan pesawat ini ketika terjatuh bisa dianalisis kemungkinannya.

Belakangan kondisi pesawat juga menjadi perbincangan pihak yang menekuni bidang aviasi.

Seperti dikutip dari Kompas TV, diketahui TribunJatim.com pesawat Sriwijaya Air SJ 182 lepas landas pukul 14.35 WIB.

Pada pukul 14.40 WIB, kurang lebih empat menit setelah lepas landas, pesawat hilang kontak dan tak terdeteksi keberadaannya.

Dalam keterangan pers terakhir, pihak berwenang menyebut pesawat itu terdeteksi berada di atas perairan Kepulauan Seribu.


Kuat kemungkinan adanya dugaan keadaan 'stall' yang dialami oleh pesawat Sriwijaya Air SJ182 detik-detik setelah lepas landas.

Dilihat dari data Flightradar, B737-00 Sriwijaya Air SJY182 ini berhenti sekitar 11 mil laut Bandara Soekarno-Hatta, di atas Kepualauan Seribu.

Berdasarkan data tersebut, pesawat Sriwijaya dapat diduga jatuh menukik tajam dalam keadaan stall.

Pesawat dapat jatuh, salah satunya bila mengalami macet (stall)

Menurut panduan stall and Spin Accidents, stall lebih mungkin terjadi ketika pesawat ada dalam fase keberangkatan, yaitu lepas landas, naik ke ketinggian, dan berputar.

Menurut Aeronautical Dictionary oleh Deborah Balter, macet bisa terjadi karena dua hal.

Stall bisa terjadi karena perbedaan sudut sayap pesawat dengan aliran angin (Angle of Attack) terlalu besar, lebih dari 15 derajat. Artinya, pesawat mendaki terlalu cepat.

Stall bisa terjadi karena cairan dalam pipa bensin atau pipa lainnya macet atau vapor lock.

Stall juga bisa terjadi pada sebelah sayap saja. Itu bisa terjadi ketika pesawat terbang melengkung.

Dalam kondisi itu, keseluruhan pesawat bisa berputar dan jatuh seperti batu.


Kondisi stall sebelumnya juga pernah terjadi pada pesawat AirAsia QZ8501yang menukik kemudian jatuh berputar di Selat Karimata.

Pesawat A320 dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak setelah sekitar 50 menit lepas landas dari bandar udara Juanda Surabaya, Minggu (28/12/2014).

Penyelidikan yang diungkap KNKT menyebut pesawat jatuh sambil berputar dari ketinggian 38.000 kaki.

Dikutip dari Intisari, kondisi stall terjadi ketika pesawat mulai kehilangan kendali.

Dalam posisi angle of attack besar, pesawat masuk dalam kondisi upset (susah dikendalikan), dan memicu stall (pesawat kehilangan daya angkat).

Input yang terekam FDR dari sidestick sebelah kanan merekam posisinya ditarik ke belakang hingga pesawat naik dengan kecepatan 11.000 kaki per menit dengan angle of attack lebih dari 40 derajat.

Kecepatan pesawat terendah adalah 55 knots saat mulai stall, dan saat jatuh bebas kecepatannya fluktuatif antara 100 hingga 170 knots.


Pesawat jatuh bebas tanpa kendali dari ketinggian 38.000 kaki dengan kecepatan vertikal antara 12.000 kaki hingga 20.000 kaki per menit (4.000 - 6.000 meter per menit). Komunikasi yang membingungkan.

Dalam kondisi stall tersebut, pesawat jatuh dalam posisi datar, bukan menukik. Untuk lepas dari kondisi stall, hidung pesawat harus diturunkan agar pesawat mendapat kecepatan dan aliran udara ada di sayapnya, sehingga pesawat perlahan bisa dibawa naik kembali.

Dan itulah yang hendak dilakukan oleh kapten penerbangan yang duduk di kiri. Data FDR menunjukkan input sidestick kiri didorong ke depan mencoba untuk menurunkan hidung pesawat.

Data CVR (cockpit voice recorder) yang diungkap oleh KNKT menunjukkan pilot memerintahkan agar hidung pesawat diturunkan. CVR merekam pilot berteriak "Pull down.. Pull down.." beberapa kali.

Namun kopilot yang duduk di sebelah kanan berdasar data FDR, memberi input joystick yang ditarik penuh ke belakang, yang berlawanan dengan input yang diberikan oleh kapten di sebelah kiri yang mendorong sidestick ke depan. Terjadi dual input dalam kondisi yang kritis.

KNKT menyimpulkan bahwa komunikasi yang dilakukan antara pilot dan kopilot tidak efektif dalam kondisi kritis tersebut. Pilot memberikan instruksi yang membingungkan kepada kopilot dengan kata "Pull down," alih-alih perintah lainnya seperti "Push forward." Kebingungan ini yang diduga menyebabkan kopilot menarik (pull) joystick ke belakang sidestick-nya hingga akhir rekaman FDR.


Sementara itu, pakar telah menemukan 3 kemungkinan pemicu jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182.

3 kemungkinan itu diungkap oleh Budhi Muliawan Suyitno mantan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Pihaknya menjelaskan penyebabnya bisa karena murmi kesalahan manusia (human error), teknis atau masalah cuaca.

“Kita harus berpikir sebagai investigator kira-kira dugaan apa yang paling memungkinkan. Bisa saja karena faktor kesalahan manusia (human error)."

"Bisa juga karena teknik yang diawali oleh manusia dan yang lainnya karena cuaca,” ujar mantan Menteri Perhubungan di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketika dihubungi Tribunnews.com, Minggu (10/1/2021).

Untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak itu, menurut dia, harus melihat secara keseluruhan karena bukti-bukti yang ditemukan dari lapangan masih sangat minim.


Namun kata dia, kalau melihat data awalnya, pesawat Sriwijaya yang jatuh ini sudah beroperasi sejak lebih dari 26 tahun yang lalu.

“Kemudian kita bisa menyelidiki track record pesawat ini dari pengoperasiannya dari catatan perawatannya secara konsisten dilakukan apa tidak,” jelasnya.

“Apalagi selama pandemi ini banyak pesawat-pesawat yang grounded, pesawat-pesawat yang tinggalnya di lapangan, tidak beroperasi. Apakah waktu dioperasikan kembali telah memenuhi persyaratan kelayakan udara dan perawatan,” tegasnya.

Hal ini kata dia, bisa dicek dibuku perawatan dan pengoperasian pesawat.

Begitu juga imbuh dia, bisa dicek training terakhir yang dilakukan oleh pilot pesawat yang menerbangkan Sriwijaya Air SJ182.

“Jadi masih sangat luias sekali dugaannya,” jelasnya.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar