Skip to main content

Resep Singkong Thailand Istimewa Versi Mall Ambassador Super Laziz Itu Bund by Bunda Endang

Resep Singkong Thailand Istimewa Versi Mall Ambassador
Resep Singkong Thailand Istimewa Versi Mall Ambassador - "Sin, makanan dari singkong yang dibentuk bulat, direndam fla warna putih yang dijual di Mall Ambassador itu namanya apa ya?" Tanya saya ke Sintya, minggu lalu, melalui WhatsApp. "Singkong Thailand, Mba," balasnya cepat. "Kok singkong Thailand-nya begitu ya? Gak ada bentuk singkongnya sama sekali." Jawab saya ragu-ragu. "Iya singkong Thai, versinya beda tapi enak banget rasanya. Teksturnya lembut dan flanya mantap." Saya menelan air liur mendengar penjelasan itu. Walau bolak-balik saya melihat makanan ini dipajang para penjual makanan kecil di food court Mall atau di lantai dasar ITC Ambassador, tidak pernah sedikitpun membuat saya tertarik mencobanya.

"Coba bikin gih Mba, buat takjil buka puasa kan enak itu," saran teman saya ini. "Udah pernah sih tapi versinya beda, kuahnya lebih encer bukan kental seperti bubur sumsum dan singkongnya masih berbentuk utuh," jawab saya menjelaskan. Namun dorongan dari Sintya tak urung membuat saya menjadi penasaran juga. Apalagi saya sangat suka makanan yang berbau-bau bubur atau fla yang bertekstur creamy dan lembut. Sabtu pagi, saya pun bergerilya ke pasar Blok A. Sepertinya Tuhan merestui keinginan saya karena setelah 'mengubek-ubek' pasar akhirnya saya mendapatkan satu kilogram singkong dari satu-satunya penjual yang memilikinya. So, singkong Thailand versi Mall Ambassador ini pun terwujud di weekend lalu. ^_^

Jika anda adalah pengunjung setia Mall Ambassador atau pernah berkunjung disana, maka mungkin makanan ini pernah dan sering anda temukan. Penjual singkong Thailand tidak mengenal musim, artinya setiap hari, baik di bulan Ramadhan maupun tidak maka mereka akan berjualan makanan ini bersama dengan kue-kue lainnya. Saya adalah pengunjung setia Mall, bukan karena saya sering berbelanja disana, namun karena mall ini persis bersebelahan dengan kantor saya. Hanya membutuhkan waktu lima menit saja jika ditempuh dengan berjalan kaki. Jadi daripada mendekam di kantor yang super dingin maka  kami lebih senang melewatkan jam istirahat berjalan-jalan di Mall.

Seperti deskripsi saya diatas mengenai Singkong Thai versi Mall, maka dessert ini berbeda dengan singkong Thai yang pernah saya buat sebelumnya. Silahkan klik link disini untuk melihat versi lainnya yang pernah saya posting. Di resep sebelumnya, tampilan makanan ini sama seperti yang disajikan di resto Thai umumnya. Singkong yang telah direbus bersama santan, gula dan daun pandan hingga empuk kemudian diguyur dengan santan kental, dan disajikan masih berbentuk potongan singkong utuh.

Namun sepertinya pedagang kue di Mall hendak menghadirkan versi berbeda, tujuannya apalagi selain membuatnya tampil menarik dan mendongkrak harga. Membandrol potongan singkong rebus yang disiram santan dengan harga lima belas ribu rupiah per porsi tentu saja akan membuat sebagian pembeli berkantong cekak seperti saya berpikir ulang. Tapi ketika singkong rebus tersebut dilumatkan hingga lenyap bentuk khas gelondongan kayunya, dikepal menjadi bulatan yang cantik dan direndam dalam fla yang terlihat so creamy maka makanan ini sukses menjadi rebutan apalagi saat bulan puasa seperti ini. Terbukti setiap kali saya melewati stall si penjual di jam makan siang maka separuh loyang singkong Thai pasti telah lenyap, laku terjual.

Bagi saya yang merasa seporsi singkong Thai seharga lima belas ribu rupiah terlalu mahal, maka walau sangat, sangat tertarik untuk mencicipinya, saya tidak pernah tergoda membelinya.  Tidak pernah menyantapnya bukan berarti saya tidak bisa menebak rasanya, karena dari tampilannya saya sudah bisa mengira rasa dan proses pembuatannya. Selama namanya masih singkong Thailand maka bahan dasarnya tidak akan jauh berbeda dengan resep yang pernah saya coba sebelumnya.

Untuk membuat singkong Thai maka aktor utama berupa singkong alias ubi kayu alias ketela pohon ini menjadi prioritas penting yang perlu diperhatikan. Ubi kayu haruslah jenis yang empuk. Pengalaman selama ini membeli ubi kayu, saya hanya mengandalkan azas kepercayaan, alias percaya saja dengan apa kata pedagang. "Empuk Bu, singkongnya?" Dan walau si Ibu penjual belum berkata saya sudah tahu jawabannya, "Empuk, Mba!" Pertanyaan bodoh yang selalu saya ajukan ketika membeli ubi kayu atau buah seperti mangga, melon dan semangka. "Manis nggak melonnya? Merah nggak semangkanya?" Dan saya belum pernah menemukan penjual yang menjawab 'tidak'.

Beberapa tips ketika membeli ubi kayu adalah lihat permukaan kulit terluarnya yang tipis. Jika tampak mengelupas 'lebay' maka konon itu tanda ubi kayu yang empuk. Walau tips ini terkadang tidak berlaku juga karena kulit ubi kayu yang saya beli minggu lalu tidak menunjukkan tanda pengelupasan, namun ketika direbus super empuk.  Saran lain adalah pilih ubi kayu yang berdaging putih bersih, tidak ada bercak warna kebiruan atau kecoklatan. Dulu Ibu saya berkata warna kebiruan itu tanda si ubi kayu masuk angin. Nah menurut Wikipedia warna kebiruan ini terjadi karena ubi kayu teroksidasi dengan udara sehingga terbentuk glukosida racun yang selanjutnya membentuk asam sianida. Asam sianida ini terasa pahit dan beracun jika dikonsumsi, namun perebusan ubi kayu akan membuat kadar racun di dalamnya menurun drastis. Jadi sebaiknya hindari atau buang bagian daging ubi kayu yang berwarna kebiruan.

Tips terakhir adalah ubi kayu yang empuk umumnya mudah dikelupas kulitnya, sedangkan ubi kayu yang keras atau liat maka kulitnya akan menempel erat seperti sol sepatu. Tips terakhir ini agak susah dipraktekkan ketika kita membelinya di pasar, alih-alih si penjual  akan bersemangat membuktikan teori ini namun bisa-bisa  justru sebilah celurit di sodorkan didepan hidung kita. Kecuali si pedagang adalah Pak De atau Bu De kita maka mungkin tips terakhir ini cukup dibuktikan di rumah saja ketika ubi kayu siap akan diolah.

Wokeh kembali ke resep. Proses membuatnya mirip dengan singkong Thai umumnya. Ubi kayu direbus bersama air dan  sedikit garam hingga empuk, baru kemudian gula pasir ditambahkan. Saya sengaja tidak merebus ubi kayu dengan santan karena fla kentalnya sudah mengandung santan yang pekat. Nah hal yang perlu diperhatikan saat merebus ubi kayu atau kacang-kacangan (kacang merah/kacang hijau) adalah jangan merebusnya bersamaan dengan gula, gula akan menghambat ubi kayu dan kacang menjadi empuk. Jadi pastikan ubi kayu/kacang empuk dan matang terlebih dahulu baru kemudian gula ditambahkan.

Ubi yang telah matang dan empuk ini kemudian dihaluskan hingga menjadi adonan yang padat dan pekat, baru kemudian dibentuk bulat lonjong  sebesar telur ayam. Sampai disini tahapan membuat singkong Thai sudah separuh jadi. Untuk flanya, sangat mudah dibuat. Cukup panaskan santan, gula pasir dan daun pandan hingga mendidih, kemudian saus dikentalkan dengan menambahkan larutan maizena. Saus fla ini kemudian dimasak dengan  api kecil dan diaduk cepat hingga menjadi adonan kental seperti bubur sumsum. Jika dirasa kurang kental maka larutan maizena bisa ditambahkan kembali hingga kekentalan yang diinginkan tercapai, dan jika dirasa terlalu pekat maka tambahkan porsi santan untuk mengencerkannya.

Makanan ini sedap disantap kala telah dingin dan mantap untuk menemani berbuka puasa hari ini. Berikut resep dan prosesnya ya.

Resep Singkong Thai versi Mall Ambassador by Bunda Endang

Bahan Bahan
  • 500 gram singkong/ubi kayu, potong sepanjang 5 cm, belah memanjang ditengah
  • 700 ml air
  • 1/2 sendok teh garam
  • 2 sendok makan gula pasir
  • 3 sendok makan susu bubuk full cream 

Note: tambahkan sekitar 3 - 4 sendok makan keju cheddar parut di adonan singkong untuk membuatnya lebih creamy dan gurih.

Bahan Saus
  • 100 ml santan kental instan kemasan 
  • 500 ml air
  • 130 gram gula pasir
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/4 sendok teh garam
  • 3 sendok makan tepung maizena larutkan dengan 2 sendok makan air

Cara Membuat Singkong Thailand Istimewa Versi Mall Ambassador


Siapkan ubi kayu, siangi dan cuci hingga bersih. Masukkan ke dalam panci, tambahkan air dan garam. Rebus dengan api sedang hingga ubi kayu benar-benar empuk. Angkat.

Jika masih ada sisa air rebusan maka saring ubi sehingga terpisah dengan air rebusannya. Buang air rebusan ubi. Masukkan ubi kembali ke dalam panci, tambahkan gula pasir dan susu bubuk.


Lumatkan ubi yang telah direbus dengan menggunakan punggung sendok nasi atau alat apapun hingga halus dan menjadi adonan yang kental dan pekat. Buang serat-serat dan sumbu ditengah ubi. Sisihkan.

Siapkan panci lainnya, masukkan semua bahan saus kecuali larutan maizena. Rebus dengan api kecil sambil saus diaduk-aduk dengan baloon whisk (pengaduk balon) hingga mulai mendidih. Masukkan larutan maizena dan aduk terus hingga saus menjadi kental.


Saus harus cukup pekat dan kental namun sedikit lebih encer dibandingkan bubur sumsum dan mudah diguyurkan ke permukaan singkong. Masak saus hingga mendidih, angkat dan sisihkan.

Siapkan piring/mangkuk saji. Bentuk adonan singkong dengan bantuan sebuah sendok nasi dan sebuah sendok makan hingga menjadi bulatan lonjong sebesar telur ayam. Tata di mangkuk, kemudian siram singkong dengan saus flanya. Santap ketika dingin. Super yummy!

Source: Wikipedia Indonesia - Ketela Pohon

http://www.justtryandtaste.com
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar